Posted by: kuboconcept | August 4, 2008

ketika kita mengutuk takdir

takdirHari ini saya mengantarkan ibu saya ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Ibu saya seorang guru SLB. Ketika sampai di SLB kulihat ada siswa-siswi berlarian gembira. Terlihat di pojok lain, ada sekelompok ibu-ibu orang tua murid yang sedang mengobrol sambil sesekali tersenyum dan melirik anak-anak mereka yang sedang bergembira. Entah apa arti di balik senyuman-senyuman itu. Hingga tiba-tiba timbul sebuah pertanyaan dari lubuk hati terdalam ku:

Pernahkah kita berpikir tentang masa depan kita?

 

Sebagian besar dari kita akan menjawab: Tentu saja! Apalagi kalau bukan lulus cepat dengan nilai yang memuaskan, kemudian bekerja di tempat bergengsi, mendapat jabatan tinggi di perusahaan, lalu menikah dengan wanita yang cantik nan solehah (untuk pria) atau menikah dengan laki-laki gagah, soleh, nan rupawan (untuk para wanita), kemudian mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh kebahagiaan, lalu memiliki anak yang pintar nan soleh dan solehah, membanggakan, dan berprestasi. Dan kebahagiaan-kebahagiaan lainnya datang berurutan. Inilah yang menyebabkan seringkali kita mengutuk pada takdir.

Tak banyak sadar bahwa di depan sana ada banyak kemungkinan yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh diri kita. Kemungkinan yang sebenarnya sudah banyak terjadi di sekitar kita, namun kita tak pernah mengacuhkannya, tak pernah mempedulikannya kemungkinan itu pasti tak akan terjadi pada diri kita. Hingga suatu saat kita sadar akan adanya kemungkinan itu ketika kita mengalaminya sendiri. Ketidaksiapan ini yang menyebabkan banyak orang yang gagal dalam menjalani hidup karena salah dalam menyikapi takdir yang telah digoreskan oleh Allah.

Salah satu kemungkinan yang ada di hadapan kita namun seringkali tidak mau kita pikirkan adalah memiliki anak yang berbeda dari anak biasa, atau istilah yang dibuat oleh orang-orang adalah anak yang memiliki kelainan atau anak cacat. Banyak orang tua yang bersedih ketika mengetahui bahwa anak mereka merupakan anak cacat. Menangis sambil berpikir dan bertanya : “Mengapa hal ini harus menimpa keluarga kami?”. Dan pertanyaan-pertanyaan pesimis lainnya. Justru hal ini lah yang sebenarnya membuat kondisi buruk pada keluarga yang ditakdirkan memiliki anak cacat, jadi sebenarnya bukan takdir sebagai anak cacat yang membuat kondisi buruk tapi pikiran orang tuanya lah yang membentuknya.

Padahal jikalau mereka mau melihat keadaan di sekitarnya. Justru ada banyak cerita tentang seorang anak yang cantik, rupawan, menawan, berprestasi, namun ternyata orang tuanya dilanda kesedihan yang mendalam karena ternyata anak perempuan kebanggaannya hamil di luar nikah disebabkan pergaulan bebasnya. Banyak juga cerita tentang seorang anak laki-laki yang sehat, gagah, keren, pintar, namun ternyata orang tuanya dirundung kepedihan yang mendalam karena ternyata anaknya yang dibanggakan adalah pecandu berat narkoba.

Sehuarusnya orang tua yang bersedih, kecewa, malu, karena anaknya cacat dapat lebih bersyukur. Jika memang mereka telah berusaha dengan baik untuk memperoleh anak yang baik, soleh, dan membanggakan orang tuanya. Maka takdir memiliki anak yang cacat adalah jawaban Allah atas usaha mereka. Cacat bukan lah musibah, bahkan bisa jadi sebuah anugrah. Boleh jadi ini adalah suatu mekanisme yang Allah buat karena rasa sayang Allah kepada mereka agar memiliki anak yang terjaga dari pergaulan bebas, anak yang berbakti pada orang tuanya, anak yang tidak akan mencoreng nama keluarga karena tindakannya yang melanggar etika masyarakat.

Ada sebuah hal menarik tentang pelajaran di SLB. Tiap kali datang musim ujian semester, saya selalu diminta ibu saya untuk mengetik soal untuk ujian. Salah satu hal yang menarik dari pelajaran meraka adalah isinya yang sangat sederhana misalnya tentang membantu ibu, membersihkan lingkungan sekitar, menaati aturan, dan lain-lain. Praktek-prakek di sekolah pun bertemakan kehidupan sehari-hari.

Dalam hal ini saya pikir SLB lebih baik dari sekolah biasa, bahkan lebih baik dari sekolah unggulan. Lebih baik dari SMA 3 Bandung. Lebih baik dari Institut Teknologi Bandung. Tidak terlalu berlebihan jika saya katakan seperti itu karena di sekolah-sekolah biasa seringkali warganya merasa tahu, merasa mengerti, merasa paham akan hal-hal kecil seperti itu, namun pada kenyataannya masih sangat banyak sekali warga yang tidak melaksanakannya bahkan meskipun mereka sudah mengerti betul tentang hal ini. Masih sangat sering saya melihat mahasiswa ITB yang membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah. Bahkan pada beberapa aturan, saya sudah sangat jarang melihat ada mahasiswa ITB yang menaati aturan tersebut, seakan-akan melanggar aturan tersebut adalah aturan sebanarnya.

Seringkali saya merasa bahwa siswa-siswi SLB jauh lebih baik daripada mahasiswa-mahasiswi ITB.


Responses

  1. cerita ini mengikatkan saya akan kisah hidup pianis muda yang sangat spektakuler (maaf saya lupa namanya), seorang remaja asal korea, yang mengalami sindrom keterbelakangan mental, 4 jari tangan dan 4 jari kaki.
    waktu kabar tentang remaja ini tersiar di media dua bulan yang lalu.
    “masyaAllah”, Tuhan maha adil.

    barangkali, kekurangan mengajarkan kita untuk selalu tau diri, bahwa semua ada yang mengatur, sehingga dengan kekurangan itu, membuat kita bisa lebih dekat kepada sang Pencipta

  2. Mungkin terlalu picik pandangan sya thdap fenomena anak cacat mental dluny,sampai akhrny sy btemu tman yg memiliki adik yg mderita cacat mental. Begitu kagum dri sya melihat tegarny kehidupn yg mereka jalani dtengah keadaan ekonomi yg bs dbilang dbwah. Hal itu menydarkan sya,betapa hrz lbh bsyukur sya dg khidupan yg skrg sya jalani.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: