Posted by: kuboconcept | September 25, 2008

sukses atau tidak

jalan menuju suksesBanyak alumni jurusanku yang sekarang kerja di perusahaan asing di negeri ini”

“Kamu tau, salah satu direktur perusahaan BUMN itu alumni jurusanku lho”

“Lho jangan salah, ada alumni jurusanku yang sekarang jadi pejabat tinggi di negeri ini”

Pernah mendengar percakapan seperti itu?

Nampaknya pembicaraan seperti itu sudah tidak asing di telinga kita, khususnya ketika kita bertemu teman lama yang sekarang sedang menjalani studi di jurusan yang berbeda dengan jurusan kita.

Sadar atau tidak sadar kita telah meng-judge kesuksesan lulusan ITB dari dimana mereka bekerja, atau jabatan apa yang mereka pegang saat ini. Mungkin secara tidak langsung juga kita lebih melihat dari seberapa besar penghasilan mereka saat bekerja. Dan tentu saja akibatnya tidak sedikit dari kita yang bercita-cita untuk menyusul mereka.

Bahkan mahasiswa ITB pun masih banyak yang berpikiran seperti itu. Rasanya sedih melihatnya.

Sebagian besar, bahkan hampir semua orang berpikiran untuk dapat bekerja dengan gaji yang sangat besar, naik pangkat dengan cepat, dan akhirnya dapat menjadi pemimpin perusahaan besar multinasional. Luar biasa.

Jangan pernah berpikir bahwa cara berpikir seperti itu adalah cara berpikir yang sewajarnya dimiliki oleh mahasiswa mahasiswi ITB. Jangan pernah menganggap remeh pemikiran ini.

Pernah mendengar tentang kisah lulusan ITB yang menganggur bukan karena tidak ada tawaran kerja, tapi karena gaji yang ditawarkan kecil?

Pernah mendengar tentang kisah lulusan ITB yang katanya individualistis, tidak mau bersosialisasi ketika di lingkungan kerja yang berisi berbagai macam orang yang berasal dari berbagai macam kampus?

Pernah mendengar tentang kisah sebuah usaha yang dibangun oleh anak-anak ITB dalam beberapa saat saja hancur?

Hal-hal seperti itu tidak lain adalah akibat dari pemikiran-pemikiran yang telah saya sebutkan di awal. Pemikiran seperti itu mengakibatkan timbulnya perasaan gengsi untuk bekerja di tempat bergaji kecil, timbulnya keengganan bersosialisasi dengan orang lain yang “tidak selevel”, perasaan merasa paling pantas untuk menjadi pemimpin.

Jangan pikir ini adalah hal yang kecil. Boleh jadi inilah salah satu penyebab terbesar dalam “kemandulan” ITB dalam menyelesaikan masalah bangsa ini. Semua lulusan ITB hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka hanya berpikir bagaimana dapat meraih mimpi-mimpinya ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Dan saya yakin, setelah melihat mahasiswa-mahasiswi disekitar saya, bahwa mimpi-mimpinya adalah ambisi pribadi. Ingin terkenal, ingin punya jabatan tinggi, ingin kaya, dan ingin-ingin pribadi lainnya. Egois!

Pernah mendengar tentang kata KONTRIBUSI?

Dengan adanya materi bakti sosial di tiap Ospek, ada juga divisi Pengabdian Masyarakat di tiap himpunan dan di BEM/KM tiap kampus. Mungkin saya yang tidak ikut Ospek Kampus, hanya ikut sebagian kecil dari ospek jurusan, dan tidak teralalu aktif di himpunan, hanya seorang anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa tentang arti sebuah kontribusi bagi mahasiswa. Tapi saya tahu betul bahwa saya tidak melihat kontribusi yang benar-benar kontribusi dari mahasiswa di sekitar saya.

Pernah mendengar tentang seorang bapak yang harus mengayuh rakit di rawa-rawa selama berhari-hari untuk membersihkan hulu sungai dari sampah agar air sungai dapat mengalir dengan baik kembali?

Pernah mendengar tentang seorang wanita yang pergi ke hutan belantara seorang diri untuk merawat seekor hewan langka yang hampir mati?

Rasanya itu yang disebut kontribusi.

Mereka yang meskipun hanya berpendidikan rendah, mau bertindak bukan hanya untuk dirinya, bukan juga untuk keluarganya, tapi untuk kemaslahatan orang banyak, untuk kebaikan alam raya. Meskipun hanya memperoleh sedikit keuntungan yang mungkin hanya cukup untuk sesuap nasi, bahkan boleh jadi jangankan mendapatkan keuntungan, justru mereka harus mengeluarkan uang dari saku mereka sendiri untuk kontribusi mereka.

Lalu bagaimana dengan kita, yang katanya, kaum berpendidikan dengan tingkat intelektual yang tinggi?

Mau jadi apa kita nanti setelah lulus kuliah?


Responses

  1. nah yg penting mah niatnya bo..

    tp kl bener2 mo nasionalis abis, siap2 ada pngorbanannya..

  2. betul..betull…kumaha niatna
    tapi sayah mah yakin. jaman sekarang ga banyak orang pinter yang bener-bener punya niatan yang bener-bener baik

    buat yang nasionalis, buat saya sih bukan masalah nasionalis ato engga, tapi mau jadi orang baik ato engga
    karena jaman sekarang mah buat jadi orang baik teh susah. banyak pengorbanan

  3. Sering kali kita mengejar MIMPI

    Seolah – olah impian itu adalah TARGET

    Susah payah penuh pengorbanan mimpi DIKEJAR

    Setelah tercapai kita akan kembali BERMIMPI

    Hidup adalah untuk IBADAH

    Ibadah itu bukanlah BERMIMPI

    Karena ibadah adalah hidup HARI INI

    Memaksimalkan HARI INI dan DETIK INI

    Masa depan adalah MISTERI

    Masa lalu adalah HISTORI

    Mimpi hanya membatasi KEMAMPUAN

    MAKSIMALKAN HARI INI UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

    http://fusion-kandagalante.blogspot.com

  4. keren kakak tulisannya🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: