Posted by: kuboconcept | October 14, 2008

laskar pelangi

 

300px-Laskar-Pelangi

Pagi itu, sekitar pukul setengah sebelas, saya pergi ke BSM untuk membeli tiket film Laskar Pelangi di teater 21 BSM. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, film ini akan ditayangkan pukul 12.00 WIB, 14.15 WIB, dan entah pukul berapa lagi. Ketika sampai di depan pintu teater, saya terkejut, banyak sekali orang yang sedang mengantri di depan pintu, padahal saat itu teater belum di buka. Akhirnya setelah beberapa menit saya ikut mengantri di luar pintu, dibuka lah pintu teater 21, kemudian berhamburan orang-orang untuk kemudian mengantri di empat loket pembelian karcis di sana.

Kendati pun sudah banyak orang yang mengantri di sana hingga ke luar pintu teater, tapi loket pembelian karcis tidak langsung di buka. Beberapa menit kami menunggu, akhirnya di loket dibuka. Padahal saat itu saya berada di bagian tengah antrian. Tidak terlalu jauh dari loket pembelian. Tapi apa yang terjadi, ternyata tiket untuk jam 12.00 WIB sudah habis. Akhirnya saya membeli tiket untuk jam 14.15 WIB. Fiuh, ternyata film ini memang mendapat sambuatan yang sangat baik dari masyarakat.

Filmnya cukup menyentuh. Tapi tentu saja saya tidak akan membahas isi film tersebut disini. Saya akan membahas satu fenomena dibalik kehadiran novel dan film Laskar Pelangi yang sedang hangat dibicarakan ini.

Ada beberapa hal yang salah timbul di masyarakat sebagai feedback dari kehadiran novel dan film laris seperti Laskar Pelangi:

1. Banyak orang yang berkata pada dirinya “Andai saja saat ini aku berada di masa Laskar Pelangi, maka akan ku bantu SD muhammadiyah dengan segala yang aku miliki”

Perasaan ini sangat mungkin hadir khususnya ketika adegan Pa Harfan yang sedang berbincang-bincang dengan Pa Zul. Tapi jangan salah mengerti dengan perasaan saat itu karena kebanyakan perasaan itu muncul bukan semata-mata karena benar-benar ingin menolong yang lemah tapi hanya karena ingin ikut andil dalam sebuah cerita ngetop, ingin terkenal. Jika memang ingin membantu, masih banyak laskar-laskar pelangi lainnya yang hingga saat ini masih berjuang untuk bersekolah dalam kondisi yang sama, atau bahkan lebih buruk ketimbang laskar pelangi. Pernah mendengar tentang sekelompok anak SD yang harus menempuh jarak puluhan kilo setiap hari untuk mencapai sekolahnya, berjalan kaki, dan di suatu bagian jalan mereka harus melepas baju mereka agar tidak basah karena mereka harus berenang untuk menyebrangi sungai sambil memegangi tas dan pakaian mereka di atas kepala mereka agar tidak basah. Apakah kita telah membantu mereka? Atau kita mau menunggu hingga cerita tentang anak-anak ini diangkat menjadi novel atau filim?

2. Banyak orang yang berharap dirinya adalah anggota Laskar Pelangi di masa kecilnya

Ini adalah salah satu hal yang membuat banyak orang tidak pernah maju. Saya pernah menuliskannya dalam tulisan yang berjudul “nasib sang pengagum”. Saya tidak akan menjelaskan kembali tentang hal ini, tapi saya tekankan bahwa sebenarnya saya, anda, dan semua orang memiliki cerita yang sama menariknya dengan laskar pelangi. Hanya tinggal bagaimana kita memaknai apa yang telah terjadi pada diri kita selama ini. Andrea Hirata, adalah orang yang telah memaknai dengan baik kejadian yang telah menimpa dirinya, hingga menghasilkan sesuatu yang seakan luar biasa bagi banyak orang. Padahal jika kita mau memaknai segala apa yang terjadi pada diri kita, sebenarnya ada banyak kejadian luar biasa yang telah kita alami selama ini.

Terakhir, saya menangkap dua hal penting setelah menonton film ini. Pertama pesan yang begitu kuat ingin disampaikan sang pembuat film melalui perkataan Pak Harfan, bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Dan yang kedua, pesan yang mungkin hanya saya saja yang begitu terkesan dengan perkataan lintang saat ia mengajari teman-temannya pelajaran sejarah, bahwa Soekarno adalah salah satu manusia paling cerdas yang pernah dimiliki bangsa ini. Entah kenapa kalimat ini begitu terngiang-ngiang di kepala. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya saya tahu mengapa. Saya begitu mengingat kalimat tersebut karena saya mengetahui kelanjutan dari kalimat tersebut. Soekarno adalah salah satu manusia paling cerdas yang pernah dimiliki oleh bangsa ini, dan salah satu manusia paling cerdas lainnya adalah aku, Ari Gunawan.


Responses

  1. Ada lagi hal menarik yang saya tangkap kubs.
    Pas nonton cerita anak, diperlihatkan bagaimana laskar pelangi telah mengubah kehidupan masyarakat banyak, dari poster selamat datang di kota laskar pelangi sampai paket tur laskar pelangi. Terlihat bagaimana bangganya orang akan sebuah kisah dunia.
    Mungkin kita memang harus terus mencari niat yang lebih tulus dari sekadar menginspirasi, sekadar mendapat perhatian orang. Namun, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak juga termasuk ketulusan bertindak..
    Memberi sebanyak mungkin sebisanya, dan menjadi orang cerdas lainnya yang pernah dilahirkan bangsa ini, untuk Allah, Bangsa, dan almamater!

  2. bener-bener urang ge nonton
    aya tulisan “selamat datang di negeri laskar pelangi” nya kan?
    tapi ada yang di sayangkan bro
    ternyata di sana ga ada biskop ya?
    jadi anak-anak sana ga bisa nonton laskar pelangi ;(

    wah-wah
    ada cakahim elektro
    urang dukunglah
    semangat!
    nanti saya ajakin anak-anak matematik buat milih kamu juga
    (tapi ga ngaruh ya,g punya hak suara😀 )
    pokonamah semangat we rof!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: