Posted by: kuboconcept | October 14, 2008

mahasiswa intelek: mahasiswa impoten

itb1Dahulu kala, saya seringkali terkagum-kagum pada aktifis-aktifis yang ada di kampus. Saya pikir mereka sangat luar biasa, hingga timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya, bagaimana caranya mereka bisa mengeluarkan ide-ide seperti itu, bagaimana caranya mereka bisa mengeluarkan untaian kata-kata indah dari mulutnya, bagaimana caranya mereka bisa beraktifias seluarbiasa itu, dan pertanyaan-pertanyaan terkagum-kagum lainnya.

Namun, suatu ketika saya menyadari sesuatu dibalik ini semua. Sebuah fakta yang tidak dapat terelakkan lagi

Suatu ketika, saya terpaksa ada di kampus hingga malam karena ada suatu keperluan. Saat itu sekitar pukul delapan malam. Kemudian saya pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Sampai di komplek rumah saya sekitar pukul setengah sembilan. Beberapa blok sebelum sampai di rumah, kulihat beberapa pemuda-pemudi berkumpul di sebuah bangunan yang biasa di sebut Gedung RW karena bangunan ini merupakan balai pertamuan untuk kepentingan RW kami. Baru saya sadari bahwa malam itu akan diadakan rapat untuk melakukan pembahasan kegiatan peringatan kemerdekaan republik Indonesia yang akan dilaksanakan dalam beberapa minggu kedepannya. Akhirnya saya pun berhenti,menunda untuk pulang ke rumah untuk mengikuti rapat tersebut.

Saat saya mengikuti rapat tersebut, saya tidak mendapati teman-teman dari kampus “gajah duduk” ITB. Hal yang sama ketika saya lihat diantara anak-anak SMA yang hadir, tidak ada anak SMA 3 Bandung. Bukan maksud untuk meng”kasta-kasta”kan pelajar dan mahasiswa. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa seringkali pelajar dan mahasiswa dari golongan “kasta tertinggi” seringkali menganut eksklusifitas. Merasa lebih baik dan memandang rendah pelajar dan mahasiswa dari “kasta” lainnya. Mungkin memang banyak yang tidak menyadari hal ini. Tapi sikap mereka benar-benar memperlihatkan bahwa mereka memang seperti itu.

Inilah fakta yang terjadi di lapangan. Saat itu adalah saat-saat sibuknya pemuda-pemudi di seantero negeri ini untuk menyiapkan perayaan 17-an. Malam-malam menjadi waktu berkumpulnya pemuda-pemudi untuk membahas perayaan yang akan mereka lakukan. Sepanjang jalan penuh dengan pemuda-pemudi yang berjualan untuk dana usaha kegiatan yang akan mereka lakukan, sebuah kegiatan yang seringkali diprotes oleh pengguna jalan yang mungkin juga sebenarnya tidak harus terjadi seandainya ada palajar dan mahasiswa yang lebih “terpelajar” diantara mereka yang dapat memberikan solusi yang jauh lebih baik daripada sekedar berjualan tidak jelas yang menganggu ketertiban lalu lintas. Tapi banyak diantara teman-teman saya di kampus “terbaik bangsa”, baik itu yang tergolong study oriented, ataupun bahkan yang termasuk aktifis organisasi, seharian berada di kampus, bahkan hingga larut malam. Dan apa yang mereka lakukan di sana adalah hal-hal yang tidak teralalu penting seperti ngobrol, main catur, main kartu, main ping-pong, main game komputer, dll. Padahal di luar sana, di sekitar tempat tinggal mereka, teman-temannya sedang menunggu ide-ide, pemikiran-pemikiran dari seorang yang lebih “terpelajar”.

Situasi pada masa-masa perayaan 17-an ini dapat menjadi cermin pada apa yang terjadi selama ini di sekitar kita. Bahkan untuk sebuah kegiatan besar yang “wajib” diselenggarakan tiap tahun, para pelajar dan mahasiswa “kasta tertinggi” ini tidak mau ikut andil, berkontribusi, sebagai penyelenggara. Bagaimana untuk kegaiatan-kegitan lain seperti bakti sosial, kerja bakti, dll? Apalagi untuk mengatasi masalah yang ada di sekitarnya. Lalu untuk apa materi kontribusi yang selalu ada di ospek-ospek di kampus?

Mungkin orang-orang disekitar rumahnya berpikir “Wah, luar biasa anak ITB itu, pergi pagi buta, pulang larut malam, pasti dia sangat sibuk, melakukan banyak hal hebat di kampus terbaik bangsa”. Padahal, andai saja mereka melihat apa yang dia lakukan di kampus. Mungkin mereka akan berkata “Emh, kalo cuman gitu sih, anak kecil juga bisa”.


Responses

  1. hahaha, tulisannya “nyundul” gan!
    😀

    wajar lah bo, orang kan lebih seneng ada di zona nyamannya, dalam hal ini kampus.
    Rumah dan lingkungan sekitarnya, cuma jadi tempat numpang aja : Numpang tidur, numpang makan, numpang berak . .

  2. nyundul gimana jo?
    udah tenggelam gitu

    kamu aja yang “pertamax” terpaut satu taun lebih dari saat tulisan ini diposting😀

    hahahaha serasa di kask*s

    iyah gan, kampus…kampus…
    kumaha atuh kampus…

  3. hehe, maksudnya tulisannya kena gitu.
    ‘Nyundul’ adalah istilah baru yang saya temukan di politikana.com.
    😀

  4. ahahaha
    kbayang sih mangsudnya itu🙂

    cuman pas baca itu saya jadi keingetan kalo lagi buka buka forum jual beli kaskus
    isi postingannya sandal-sundul😄


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: