Posted by: kuboconcept | October 24, 2009

mengikis budaya sendiri

zidan dan SBYBeberapa waktu yang lalu kita mendapat kabar gembira bahwa batik diakui sebagai warisan budaya Indonesia oleh badan pendidikan dan kebudayaan dunia (UNESCO). Sesuatu yang sangat membanggakan tentunya. Beberapa waktu sebelumnya penggunaan batik cukup marak karena sedang santer masalah peng-klaim-an batik oleh malaysia. Namun sebelum terjadi masalah peng-klaim-an itu, seringkali batik hanya dianggap sebagai sebuah “seragam” pelengkap dalam acara-acara adat resmi seperti pernikahan, syukuran, khitanan, dll tanpa memandang batik sebagai salah satu warisan kekayaan budaya bangsa kita sehingga  mungkin tidak sedikitpun terasa kebanggaan saat memakainya.

Batik hanya salah satu dari sekian banyak budaya yang dimiliki bangsa kita. Kejadian hampir “dicuri”nya batik oleh bangsa lain sangat mungkin terjadi pada budaya-budaya kita yang lainnya. Sayangnya seringkali kita tidak sadar akan hal itu. Setelah terancam “dicuri”, baru lah kita ngamuk-ngamuk.

Kita seringkali tidak sadar bahwa gaya hidup kita sendiri lah sebenarnya yang membuat kita “kehilangan” budaya kita. Mirisnya lagi, kita bangga melakukannya.

Kita seringkali memiliki anggapan bahwa budaya luar jauh lebih keren, lebih funky, lebih oke daripada budaya sendiri. Bahkan seringkali budaya sendiri dianggap kuno, kampungan, katrok. Dulu sebelum ada gembar-gembor masalah batik ini, kalo saya kuliah pake batik selalu ditanya “Mau ke ondangan bo?” (dengan nada menyindir), sebenernya sekarang juga sih, tapi kalo sekarang saya bisa dengan mudah menjawabnya dengan jawaban yang akan balik menyindir mereka 😀. Anggapan seperti inilah yang sedikit-sedikit akan mengikis budaya kita.

Salah satu contoh konkret, suatu saat kita akan makan bersama teman-teman di sebuah cafe, kemudian kita menemukan dua menu ini:

menu siap

dengan harga yang sama yaitu Rp 20.000. Lalu menu mana yang akan kita pilih? Saya yakin kebanyakan dari kita akan memilih steak karena kita akan terlihat lebih modern daripada memilih menu nasi timbel yang akan terlihat kampungan.

Masakan juga merupakan warisan budaya bangsa, kita lihat bagaimana cafe yang menawarkan makanan-makanan luar jauh lebih diminati dibandingkan makanan-makanan lokal. Seringkali kita memilih makanan lokal bukan karena kita memang memilih, tapi karena keadaan “memaksa”, bisa karena tempatnya yang dekat, tidak ada lagi masakan yang lain, atau harganya yang jauh lebih murah, sehingga saat kita dihadapkan dengan kondisi dimana kedua masakan tersebut disandingkan sejajar. Maka kita akan memilih masakan luar tersebut. Jika seperti ini terus, maka suatu saat nanti nasi timbel akan segera hilang dari peredaran karena para pengusaha tempat makan tidak mau menjual makanan yang tidak laku dijual. Lalu saat Nasi Timbel ini akan “dicuri” bangsa lain, baru kita sewot ga mau nerima. 

Salah satu contoh kecil ini memperlihatkan pada kita bahwa sebegitu tidak pedulinya kita pada budaya bangsa sendiri yang akan berakibat pada terkikisnya budaya ini. Jika kita perhatikan hal-hal yang lain, seperti budaya pakaian, budaya bersosialisasi, budaya berkehidupan, budaya adat, budaya seni, dll maka akan kita dapati bahwa sikap-sikap kita seringkali membuat budaya sendiri terhapuskan dan menggantinya dengan budaya bangsa lain. 

Marilah bersama-sama kita sadari bahwa kebudayaan yang kita miliki adalah sebuah warisan yang sangat berharga dan merupakan suatu kebanggaan saat kita dapat ikut andil melestarikannya.

Marilah kita lestarikan budaya bangsa, karena inilah jati diri kita…


Responses

  1. hmm, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau bo😀

  2. setelah rumput sendiri (yang tentunya lebih bagus) mulai dicuri tetangga,
    baru ngamuk-ngamuk😀

  3. duanana juragan jukut sih, jadi we pundungan.😉

    ngan urang rada kurang satuju jeung contohna. Sabab ceuk urang, masalah ieu mah sigana di pengemasan jeung bisnis we. dahareun lokal semacam timbel geus boga citra = “jorok, kurang bersih, ga g4vull, de el el “. Salian ti eta, nggeus alus-alus ka kafe maenya ujung-ujungna timbel deui , eta mah ngesot ka gelap nyawang ge bisa, misalna.

    mun nggeus urusan perut sih, nu berbicara lain nasionalisme deui, tapi selera. Asal halal dan thoyyib sih nteu masalah..

    *ngan mun urang di kafe sih, pastina ge analisis kuantitatif jeung kualitatif daharan heula. Koki terbaik adalah rasa lapar, dan traktiran batur😀

  4. hahahaha
    masalah dahareun mah ente jago pisan
    *gegabah urang mendahului master kuliner😀

    setuju.musti ada revolusi(*?) di dunia kuliner. harus diperbaiki tuh citra masakan indonesia. sebenernya balik lagi ke konsumen. konsumen sekarang banyaknya so’ g4ul sih. jadi kalo makan pengen yg kren. ahirnya pengusaha kuliner profesional berduit ya nyediain yg dibutuhkan oleh konsumen. dan akhirnya hanya pengusaha kuliner tak berduit yang terpaksa memproduksi makanan lokal karna mereka punya keterbatasan ilmu dan biaya. dan akhirnya lagi karna keterbatasan ilmu dan uang, produk menjadi kurang berkualitas. hingga akhirnya citranya menjadi tidak sebaik makanan2 luar yang terlihat berkelas.
    *meskipun alhamdulillah masih ada restoran elit yang mengkhususkan diri pada masakan lokal.

    kalo soal selera sih, saya pikir juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. gaya hirup so’ barat membuat alam bawah sadar memerintahkan lidah untuk menolak masakan lokal.

    contohnya ga perlu jauh2, kluarga saya aja. kalo ibu bikin makanan yg sgt tradisional, misal rebung bambu, lalap daun2 aneh, dll anak2 ga suka, cuman ibu-bapak aja yang suka. apakah karena rebung bambu ga enak?engga juga, karena banyak org dulu yang suka. ato mungkin karna mreka blm ktemu mknn barat yang enak2?, engga juga karna waktu kluarga bli kebab turki (yang berkeju dan bermayones), anak2 suka sdngkn ibu-bapak ga suka.
    apa yang salah disini?padahal kami tlah hidup bersama slama belasan taun. saya pikir gaya hidup.

    dan ketika gaya hidup “bangga dengan budaya orang lain” terus berkembang seperti sekarang. maka kita tinggal menunggu waktu hingga tidak ada lagi budaya bangsa, ciri khas, dan jati diri yang bangsa ini miliki.

  5. saya jadi kepikiran buat nambahin tulisan ini..

    jadi kesimpulan contoh itu
    bukan berarti kita ga boleh makan masakan luar. boleh saja untuk sekedar tau, sekedar merasakan, untuk insidental, dll.
    bukan juga kita harus selalu makan masakan lokal.

    tapi kita harus sadar betul bahwa kita memiliki warisan budaya masakan bangsa. kita harus bangga dan ikut serta dalam melestarikan budaya ini. karena ini adalah kekayaan bangsa yang harus kita jaga.

    misalkan kalo jadi pengusaha restoran, janganlah itu menu masakan lokal dihapuskan, kalo perlu dibuatlah inovasi,usahakan biar orang2 juga jadi suka masakan lokal.
    kalo jadi orang tua, ajaklah juga anak2nya ke restoran masakan lokal kalo lagi sukuran sesuatu. jangan punya anggapan makan di restoran barat itu keren.
    kalo jadi temen, ajaklah temennya untuk sekali-sekali makan makanan lokal, kenalkan teman kita dengan masakan khas daerah kita.

    dan sekali lagi, intinya adalah marilah bersama-sama kita sadari bahwa kebudayaan yang kita miliki adalah sebuah warisan yang sangat berharga dan merupakan suatu kebanggaan saat kita dapat ikut andil melestarikannya

  6. keren euY tuLisan nYa..^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: